wisma kilang mandiri, mutiara yang hampir hilang

Site Plan / Rencana tapak kawasan ini di buat miring mengikuti arah garis pantai. 6 Unit massa wisma diletakkan memanjang  rapi, teratur, dan presisi, terhadap bentuk lahan. Jarak antara bibir pantai dan badan bangunan  lebih dari 50 meter.  Zaman dahulu, membayangkan betapa senangnya tuan-tuan dan noni-noni Belanda pengelola Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), sekarang dikelola oleh Pertamina Balikpapan,  berpesta Barbeque ditaman dengan suasana tepi pantai nan luas sambil mendengar debur ombak dari pantai. Jarak antar massa bangunan dengan bangunan lain berjarak 10-20 meter, sela-sela bangunan itu seperti sengaja didesain lebar-lebar agar tidak menghalangi pandangan dari alun-alun menuju pantai. Sebuah desain kawasan yang  berorientasi lingkungan dan bermimpi jauh kedepan, bahkan hari ini setelah lebih dari 50 tahun kita masih  bisa menikmati kawasan hingga hari ini.

Jarak alun-alun atau lapangan merdeka dengan badan belakang Wisma kilang mandiri ± 50 meter juga,  sekarang berfungsi sirkulasi untuk kendaraan, taman dan pedestrian untuk pejalan kaki. Pagar-pagar pembatas kawasan dibangun menyusul dikemudian hari. Bangunan-bangunan lama milik BPM lebih banyak didesain tidak berpagar, atau kalau berpagar, selalu dibuat pendek-pendek. Mata kita akan selalu menikmati view rumah, bangunan, dan kantor BPM itu secara telanjang, tidak dibatasi dengan pagar  yang tinggi-tinggi seperti desain rumah-rumah milik kita sekarang. Tentu pertimbangan keamanan dan privasi penghuni menjadi pertimbangan utama.

Bentuk kolom Struktur adalah kombinasi kolom bulat yang dinamis khas colonial, serta kolom segi empat dibagian dalam bangunan. Kolom bulat berdiameter 30 cm hanya ditempatkan di bagian depan teras bangunan menghadap ke laut. Kolom bulat itu lalu menopang plat-plat kanopi teras, yang bisa dinikmati sambil minum kopi dari hindia Belanda dan roti berlapis keju dari Eropa zaman itu. Model-model kanopi seperti ini sekarang lagi banyak digandrungi masyarakat luas penggemar rumah-rumah minimalis. Sebuah perulangan model dan bentuk bangunan dari 50 tahun lalu.

Layout ruangan dilantai dasar dipisahkan secara tegas oleh dinding pembatas antara ruang servis, KM/WC, dapur, dengan ruang multifungsi, atau ruang tamu. Lantai 2 terdiri dari 3 kamar lengkap dengan KM/WC masing-masing dalam kamar. Atap praktis berwujud pelana didesain tidak sama tinggi. Sisi atap yang lebih rendah menghadap ke alun-alun / lapangan merdeka, sisi atap lain yang lebih tinggi menghadap ke pantai. Perbedaan ketinggian atap itu membentuk celah yang dimanfaatkan maksimal untuk hembusan  angin dari darat dan cahaya matahari untuk lantai 2 bangunan. Sebuah kearifan lokal yang menginspirasi serta dimanfaatkan secara cerdas oleh arsiteknya. Kearifan dan kepedulian terhadap potensi tropis itu juga tampak pada penyelesaian finishing pintu dan jendela depan dan belakang bangunan . Lebih menarik lagi bentuk jendela samping berukuran 50 x 100 cm yang sengaja ditonjolkan lalu dimiringkan, sebuah kejutan-kejutan desain yang makin jarang kita temukan didesai-desain zaman sekarang. Teras bawah dan balkon lantai 2 didesain lebar dengan overstek lebih dari semeter. Tentu mereka sudah memikirkan akan derasnya hujan sepanjang tahun diwilayah beriklim tropis.  Posisi tangga menempel diantara ruang servis/dapur dan ruang multifungsi. Material anak tangga dari papan bengkirai tebal 4 sentimeter, Konstruksi tangga dari besi baja, sangat kuat, kualitasnya tidak pudar dimakan waktu, kecuali warnanya mengalami gradasi warna asli metal. Instalasi listrik dan Panel-panel asli berbahasa belanda masih terpasang dan digunakan samapi hari ini.

Kalau hari ini pemerintah Kota Balikpapan bervisi masa depan sebagai  The Water front city, seharusnya Bangunan Wisma Kilang milik pertamina ini bisa dijadikan benda cagar budaya dan contoh desain bangunan dan kawasan terintegrasi yang orientasi bangunannya benar-benar menghadap ke laut, Bagian belakang bangunan dibuat menghadap langsung ke arah alun-alun (lapangan merdeka) kota. Kawasan ini telah menjadi saksi bisu perjuangan kota Balikpapan menuju kota modern dari masa ke masa. Keunikan desain dan ketahanan material bangunannya, bisa menginspirasi desain bangunan-bangunan lain di Balikpapan. Meskipun hari ini tidak tepelihara dengan baik, Bangunan ini adalah sebuah mimpi desain yang paripurna  dari masa lalu, kini bagai sebuah mutiara yang kini hampir hilang.

(Wahyullah Bandung IAI, arsitek)