sungai ditengah kota

“Selama ada kota, selalu ada perempuan dan laki-laki yang mencari sesuatu untuk menentukan dan kemudian menyempurnakan seni dan perancangan kota. Artis dan perancang, Inventor dan teologis, vegetarian dan filosofer adalah diantara kebanyakan yang berpaling pikirannya untuk menyempurnakan pola pemukiman manusia. Kita mengaduk-aduk dengan unsur-unsur kota – politik ekonominya, bangunannya, sosial, dan lingkungan alamnya – memimpikan kesempurnaannya dalam beberapa waktu, tetapi tidak pernah mewujudkan impian itu (Leonie Sansadercock)”

Beberapa hari yang lalu untuk suatu keperluan saya berkunjung  ke sebuah toko. Letaknya selemparan batu dari bekas kawasan Rumah Sakit Umum lama / PUSKIB Balikpapan. Saya bertamu tidak lebih dari 15 menit. Tidak lama berselang Pemilik toko memperingatkan saya untuk memindahkan kendaraan saya yang terparkir ditepi kanal besar, agar tidak “larut” terbawa air bah yang membentuk sungai dijalan tengah kota. Kanal besar itu mengalir sepanjang jalan dari persimpangan Gunung Malang dan berujung dipersimpangan Muara Rapak. Tidak jauh memang. Alangkah kagetnya saya dalam waktu yang sesingkat itu, kendaraan saya nyaris terbawa air bah. Permukaan air dikanal yang lebarnya sama dengan lebar jalan, kelihatan rata dengan jalan. Tidak jelas perbedaan kanal air dan jalan raya. Air tidak lagi mengalir di Kanal, tapi sudah meluber berpindah ke jalan raya. Tidak lebih dari setengah jam, air keruh bercampur lumpur mengalir sangat deras dari kanal-kanal kecil disamping dan dibelakang PUSKIB. Kawasan ini memang lebih rendah dari area perbukitan yang mengelilinginya. Kondisi Topografi Kota Balikpapan dikelilingi kawasan yang berbukit-bukit membuat wilayah-wilayah berkontur paling rendah rawan banjir. Celakanya, kawasan itu berada ditengah-tengah pusat kota Balikpapan !.

Secara topografi kota Balikpapan terdiri dari kawasan perbukitan yang miring dan bergelombang ±85%, dengan struktur tanah mudah tererosi ±15%. Kondisi topografi ini didukung dengan Iklim di kota Balikpapan yang beriklim tropis basah dengan curah hujan yang tinggi, serta tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan, bisa turun sepanjang tahun, tidak mengenal waktu. Rakyat yang bermukim didaerah rawan banjir selalu harus waspada dengan air bah yang bisa datang  secara tiba-tiba.

30 tahun yang lalu kanal sedalam ± 3 meteran itu cukup lebar dan dalam untuk menampung aliran air dari daerah-daerah tinggi perbukitan, tetapi tidak untuk hari ini. Pemukiman-pemukiman yang terbentuk dari bangunan yang tidak terencana dan sebagian besar tidak memiliki izin bangunan berdiri dikawasan perbukitan. Wilayah yang berfungsi sebagai terasering semakin padat dijejali. Teras-teras diperbukitan sudah hilang. Tanah dilahan-lahan yang miring tersebut tidak lagi berfungsi sebagai pengatur debit dan penyerap air lagi. Akibatnya jika hujan turun, maka air mengalir sangat kencang dan menghanyutkan lapisan-lapisan tanah perbukitan.

Ketika Kawasan PUSKIB pun akhirnya beralih fungsi menjadi kawasan supermall atau superblok atau apapun namanya, maka salah satu hal yang mesti dilakukan oleh investor dan pemerintah adalah membuat bozem atau penampungan air, bozem ini berfungsi sebagai wadah sementara sebelum air hujan dialirkan ke kanal-kanal kota. Kanal itu juga harus segera diperlebar dan diperdalam, agar volume air yang mengalirinya tidak meluber ke tengah-tengah jalan raya.

Setiap hujan deras mengguyur kota Balikpapan, hal yang selalu terngiang-ngiang dipikiran saya adalah kekhawatiran banjir & tanah longsor. Kekhawatiran itu karena saya mengetahui fungsi-fungsi kawasan telah banyak diubah dan berubah. Perubahan-perubahan itu tidak diiringi dengan kecepatan dan kepesatan pembangunan kanal-kanal besar ditengah kota. Master plan kota Balikpapan yang dibuat ± 30 tahun lalu, meski direvisi setiap tahun sudah tidak relevan dengan kondisi kekinian. Balikpapan tumbuh berkembang pesat sebagai kota modern dan berlari sangat kencang mensejajarkan diri dengan kota-kota lain didunia, sementara pembangunan infrastruktur penunjang kota berjalan sangat lambat. Pusat kota sebaiknya dipindahkan ke kariangau atau ke daerah-daerah yang relatif lebih datar dan masih bertumbuh sangat lambat. Perpindahan itu akan merangsang munculnya titik –titik simpul kota baru dan menjadi stimulan tumbuhnya pemukiman-pemukiman baru yang lebih terencana. Atau kita hanya akan menjadikan salah satu misi kota Balikpapan yang ingin mewujudkan kondisi kota yang layak huni dan berwawasan lingkungan yaitu membangun kota dengan mengindahkan kaidah-kaidah kelestarian lingkungan sehingga kota akan menjadi satu kesatuan ekosistem yang layak dihuni oleh warga kotanya, hanya sebuah jargon belaka ? entahlah…

(Wahyullah Bandung, IAI, arsitek & penikmat kota)