kota balikpapan dipersimpangan jalan

October 26, 2012 in opini by iai

fire

“Saya hanya butuh sejenis pondok-pondok pak, yang penting tidak kena hujan dan matahari”, begitu kata Ibu Rahma, ketika diwawancarai sebuah media radio lokal sehari setelah kebakaran besar yang menghabiskan 3 RT dikawasan padat penduduk  belakang Terminal BP. saya menyimaknya diatas kendaraan yang saya tumpangi menuju Samarinda. Ada nada kegetiran dan kekhawatiran mereka tidak bisa lagi bermukim di sana. Mereka lebih nyaman bermukim diatas tanah rawa yang tidak bersertifikat dan tidak memiliki izin bangunan. Kawasan ini tumbuh alami dan dibangun alami seperti wilayah-wilayah lain dipesisir pantai kota Balikpapan. Untuk kepentingan penataan kota yang lebih baik, beberapa kawasan akhirnya bisa direlokasi ke wilayah-wilayah baru. Pemangku kota menganggap kawasan seperti ini sama dengan pasar-pasar  tradisonal yang dianggap kumuh, jelek, dan becek, mengotori dan menodai wajah kota yang bersih.

Kawasan dibelakang terminal BP adalah salah satu kawasan yang membuat sakit kota Balikpapan. Sakitnya parah, selama ini wajahnya selalu tertutupi dengan gemerlap toko-toko, pusat perbelanjaan dan mall disekitarnya. Rumah-rumah yang berhimpitan, dan berdesakan tumbuh seperti tanaman menjalar horizontal mengarah kepantai dan kemana saja, dan melanggar aturan-aturan tentang tata kota tentang Ijin Mendirikan Bangunan. Blok-blok rumah horizontal itu tumbuh diatas tanah rawa yang tidak bersurat resmi. Blok-blok pemukiman hanya dilayani jalan-jalan kayu ulin selebar 1-2 meter berkelok-kelok sepanjang hingga ratusan meter. Jalan sempit ini juga yang akhirnya menyulitkan mobil pemadam kebakaran masuk mengiterupsi nyala api dari jarak yang paling dekat. Fire Hydrant ? tidak bisa diadakan, selain akan mudah hilang dan dicuri, kebakaran adalah kejadian langka dalam satu kawasan, sekali dalam seumur hidup, tetapi sekali terjadi akan meluluhlantakkan harta benda yang dicari seumur hidup. Salah satu biang keladi terjadinya kebakaran, karena tidak ada data yang jelas tentang bahan dan material listrik yang digunakan untuk instalasi masing-masing rumah itu. Barangkali hal yang paling menyenangkan dikawasan tersebut adalah kecenderungan penghuni kawasan yang guyub dan ramah. Setiap warga dalam satu RT akan dengan mudah saling mengenal satu sama lain. Wajah-wajah ceria dan bangga satu sama lain mudah kita dapatkan. Tidak semua kawasan baru akan bisa menciptakan kondisi yang ramah sepeti itu. Sebagian besar penghuninya merupakan pekerja, karyawan, buruh harian, dan pelaku-pelaku kota yang tidak ada dipermukaan kota, mungkin sesekali diajak muncul mengapung-apung bersama perahu politik menjelang pilkada, jumlah mereka sangat banyak dan mudah diajak berlayar kemana-mana, nakhodanya tidak perlu jelas siapa dan mengapa. Mereka banyak tapi tidak selalu dibutuhkan.

Masalah sesungguhnya pasca kebakaran adalah mengembalikan budaya paternalistik dan mengobati kondisi psikologis masyarakat yang akrab dan tidak berjarak satu sama lain sesegera mungkin. Ciri masyarakat Balikpapan yang ramah, tumbuhnya dari kawasan-kawasan padat seperti ini. Dengan pendapatan yang tidak memadai, mereka tidak perlu diajak untuk berlomba-lomba menggapai produk-produk baru sebuah kota. Lebih baik membiarkan mereka hidup dalam kondisi ruang kota yang apa adanya dan sesuai dengan lingkungannya. Kawasan di Belakang terminal BP adalah kawasan impian sebagian warga kota untuk mendapatkan biaya hidup yang murah meriah, tetap bekerja, tetapi mendapatkan semua fasilitas kota seperti pasar dan terminal angkutan kota. Mereka memiliki hak yang sama dengan warga kota yang lain, berjuang hidup dan menikmati fasilitas kota di tengah makin mahalnya biaya hidup di kota Balikpapan.

Dahulu, solusi yang disodorkan pemangku kota setelah kebakaran dikawasan padat penduduk adalah merelokasi atau memindahkan penghuni kawasan ke lokasi baru yang lebih menjanjikan, dengan kompensasi tanah yang lebih luas dan kehidupan yang lebih baik. Kawasan yang lama kemudian ditata ulang menjadi lebih baik atau dijual ke investor untuk dikelola.

Sekarang dengan perda rumah susun,  penghuni kawasan tidak perlu direlokasi ke tempat yang jauh dan baru, mereka akan ditampung dalam ruang-ruang vertikal berbentuk rumah susun 2-3 lantai, rumah susun tidak boleh didesain lebih dari 3 lantai, karena akan menyusahkan aksesbilitas lansia dan penyandang cacat. Sistem fire protection, sanitasi air bersih dan air kotor dibuat terintegrasi dalam satu core saja yang mudah dikontrol, dan akan menghindarkan kebakaran yang besar dimasa yang akan datang. Rumah susun akan mengakomodasi kebiasaan hidup berdampingan dekat satu sama lain, berinteraksi sepulang dari tempat kerja dan bersenda gurau dengan penghuni kawasan sepanjang hari. Perda rumah susun akan  memberi kesempatan penghuninya untuk memiliki ruang-ruang dirumah susun yang sah secara hukum

Kota Balikpapan lagi dipersimpangan jalan, menjadi kota yg baik dan sehat dan nyaman, menjadi kota yg biasa-biasa saja, atau menjelma menjadi kota yang jelek sama sekali. Seharusnya segera disusun strategi skala makro dan mikro, sebelum terlambat, karena balikpapan melaju sangat cepat. Sekali salah ambil arah, sulit kembali ke persimpangan. Perbanyak taman kota, selamatkan pantai kota agar tidak menjadi private space, perlebar jalur pedestrian, perabot kota diperbanyak, jam kota, bangku tepi jalan, lampu pedestrian, penunjuk arah, pohon rindang. Rumah susun dengan 2-3 lantai diperbanyak, hindari pemanfaatan yang kurang tepat di lantai dasar pada jalan utama, pemerintah kota sudah harus mulai membuat gedung parkir, dan tram sbg moda transportasi umum warga kota, sekarang saatnya ! (Wahyullah Bandung, arsitek & pengamat kota)

 

Share this:
Share this page via Email Share this page via Stumble Upon Share this page via Digg this Share this page via Facebook Share this page via Twitter