belajar tidak perlu ke negeri cina !

“Kota adalah pusat tertinggi kekuasaan dan peradaban masyarakat, siapa menguasai kota, maka dia menguasai kekuasaan dan peradaban” (Lewis mumford)

Lewat BBM, saya bertanya kepada seorang teman ahli perencana kota dari Jakarta, “Apakah kemajuan sebuah kota diukur dari banyaknya fisik bangunan seperti supermall, hotel, apartemen, bandara, pelabuhan ataupun ruang-ruang terbuka hijau seperti taman-taman kota, lapangan olahraga, dan alun-alun kota ?”. Kondisi Jakarta hari ini memberi kekhawatiran visi keliru penguasa kota dan masa depan kota-kota di Kalimantan Timur. Jakarta merupakan salah satu contoh buruk pengelolaan kota yang tumbuh abnormal secara fisik, dan secara batin kota yang tidak memilki roh, karakter, ideologi, moral, dan etika.

Kota pantai Balikpapan dahulu sangat livable/nyaman huni, tiba-tiba menghadapi masalah besar menangani ancaman banjir setiap hujan. Perkembangan fisik kota berlari lebih cepat daripada pembangunan infrastruktur kotanya. Perkembangan fisik kota yang tidak diimbangi pembangunan infrastruktur kota akan mempengaruhi kondisi roh, karakter, ideologi, moral, dan etika masyarakat. Visi kota dipertanyakan, ada yang keliru dalam perencanaan dan perancangan kota Balikpapan. Penguasa kota lupa menggali potensi dan kearifan lokal. Dengan moral dan etika kota yang ramah, nyaman, dan heterogen, Kota Balikpapan semestinya dibangun dengan roh dan karakter kota internasional modern dan kontemporer. Daya tarik modern dan kontemporer tersebut bisa dianggap sebagai kearifan lokal Balikpapan. Kearifan lokal bukan yang berbentuk fisik, tetapi unsur-unsur yang menjadi dasar dari kearifan yang tumbuh didalam masyarakat sebagai etika dan moral. Etika dan moral kota itu misalnya perilaku warga Balikpapan hanya menyeberang di zebra cross dan jembatan penyeberangan yang disediakan saja. Kata teman saya, etika seperti itu langka, hanya dia temukan di Balikpapan. Penguasa kota tentu harus lebih pandai dan cerdik dalam mengamati unsur-unsur yang masih relevan.

Geli sekaligus miris melihat kegiatan studi banding beberapa pemerintah kota ke luar negeri, yang biasanya hanya melihat keberhasilan kota-kota diluar negeri secara fisik saja. Kota maju dan modern seperti Singapura tidak begitu saja meniru kota-kota lain didunia. Pemerintah setempat merencanakan dan merancang kota dengan mengawinkan unsur-unsur fisik kota modern budaya Eropa dan Inggris dengan unsur-unsur etika dan moral budaya Melayu.

Studi banding seharusnya bisa dilakukan ke kota-kota didalam negeri saja yang berhasil, baik dalam pembangunan fisik maupun pembangunan ekonomi, dan yang paling utama adalah pembangunan sosial dan budaya. Studi komparatif dokumenter dapat dilakukan dengan mengkaji keberhasilan pemerintahan mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin dalam meletakkan dasar-dasar Jakarta dimasa lalu. Untuk masa kini keberhasilan Walikota Joko Widodo, nama panggilan populernya Jokowi, membawa kota Surakarta atau Solo menjadi kota Batik dan International City. Atau yang paling gres adalah keberhasilan Walikota Surabaya, Ibu Risma mengubah drastis wajah dan karakter kota Surabaya yang dahulu kering dan gersang, menjadi Kota Surabaya yang segar, teduh dan hijau. Kota-kota tersebut harus menjadi kota tujuan studi komparatif bagi walikota apabila mempunyai tekad mensejahterahkan warganya. Bang Ali, Jokowi, dan Ibu Risma adalah Gubernur dan Walikota yang populis, pejabat yang kreatif dan visioner untuk membangun wilayahnya secara partisipasori untuk mensejahterahkan kehidupan warganya.

Pada hakekatnya, pembangunan-pembangunan sarana dan prasarana kota masih berlandaskan konsep tindakan dari atas bukan berasal kebutuhan dari bawah. Konsep partisipasori seperti yang seharusnya terjadi untuk suatu rencana pembangunan masih kurang mendapat perhatian dan hanya dilaksanakan oleh kota tertentu saja. Seharusnya konsep partisipasori yang intinya mengikutsertakan masyarakat perlu dilakukan dalam setiap pembangunan baik dalam menyediakan sarana dan prasarana kota oleh pemerintah maupun pihak swasta. Konsep partisipatori dalam kebijakan perancangan kota yang mengadung kearifan lokal berasal dari jiwa masyarakat akan mewujudkan genius loci yang pada akhirnya mengekspresikan roh (spirit), dan citra (image) dan identitas (identity) kota.

(Wahyullah Bandung, arsitek dan penikmat kota)