balikpapan menuju kota kelas dunia

Visi kota Balikpapan Tahun 2006-2026 adalah “TERWUJUDNYA BALIKPAPAN SEBAGAI KOTA BERDIMENSI INDUSTRI, PERDAGANGAN, JASA DAN PARIWISATA BUDAYA DAN PENDIDIKAN YANG DIDUKUNG OLEH PENYELENGGARAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE) DAN MASYARAKAT YANG BERIMAN, SEJAHTERA, BERPERADAPAN MAJU (MADINATUL IMAN)”

Kota kelas dunia adalah kota yang nyaman dan kondusif bagi pengusaha untuk berinvestasi. Investor membutuhkan kecepatan dan kemudahan dan perijinan. Cina bisa maju sangat cepat karena pemerintahnya memberi fasilitas perijinan dan fasiltas umum gratis kepada investor. Pemerintah setempat dan rakyat harus bekerja sebagai satu kesatuan. Sistem penataan ruang dan kota mesti transparan/terbuka. Miniatur kota bisa dilihat rakyat dimana saja, maket model dan prototipe kota ada di aula kelurahan, dipusat-pusat perbelanjaan, dan dikampus-kampus. Master plan kota dan RTRW kota, dan setiap kali direvisi bisa dengan mudah diakses dan diunduh lewat internet. Rakyat memilki informasi yang cukup memadai sebagai bahan pertimbangan sebelum membeli tanah dan membangun disuatu kawasan, tidak menabrak aturan tata ruang perkotaan. Pemerintah sebagai stakeholder harus luwes dan cepat tanggap, serta tidak ketinggalan jaman. Pemerintah yang ketinggalan jaman selalu terjebak dikebijakan-kebijakan kota yang tidak penting, justru ketika kota-kota lain didunia berpacu membangun dan mengubah kotanya menjadi kota berkelas dunia. Kota kelas dunia tidak lagi menggunakan cara-cara kekerasan mengatur keberadaan pedagang-pedagang kaki lima. Pendekatan manusiawi pasti lebih baik untuk mengatur mereka. Pedagang kaki lima dianggap sebagai potensi wisata, bukan musuh yang harus dibasmi.

Taman kota harus semakin diperbanyak. Hutan kota tetap dipertahankan, biarkan pohon-pohonnya tetap tumbuh apa adanya, dinikmati sebagai sarana olahraga dan rekreasi alami, dan masih bisa juga digunakan pedagang kaki lima untuk berjualan. Rakyat secara nyaman dan leluasa harus menikmati pantai secara gratis. Pantai kota perlu diselamatkan agar tidak menjadi private space. Jika coastal road yang membentang sepanjang garis pantai teluk Balikpapan terwujud, maka orientasi muka gedung/bangunannya diubah dari membelakangi pantai menjadi menghadap ke pantai. Jalur pedestrian tidak 1 meter, tapi minimal 2 meter, agar rakyat bisa berjalan kaki dengan leluasa. Perabot kota diperbanyak, jam kota, bangku tepi jalan, lampu pedestrian, penunjuk arah, pohon rindang, semuanya didesain secara khusus, disayembarakan, agar menghasilkan wajah kota yang menarik, asri, dan indah. Rumah susun vertikal dengan 2-3 lantai diperbanyak, agar backlog kebutuhan rumah di Balikpapan bisa segera terpenuhi. Hindari pemanfaatan yang kurang tepat di lantai dasar pada jalan utama, pemerintah kota sudah harus mulai membuat gedung khusus parkir, dan memeperbanyak pilihan tram sebagai moda transportasi massal umum warga kota.

Gedung-gedung pemerintah yang sifatnya memberi pelayanan publik kepada masyarakat harus membiayai pemeliharaan dirinya sendiri, tidak tergantung ke alokasi anggaran pemerintah daerah setiap tahun. Dana anggaran belanja daerah seharusnya diperuntukkan untuk rakyat, tidak lagi digunakan untuk membiayai pemeliharaan gedung-gedung besar dan monumental milik pemerintah setelah pembangunannya selesai. Gedung pemerintah tidak boleh berkesan angkuh dan angker terhadap rakyat, karena gedung-gedung tersebut dibuat untuk memberikan pelayanan secara luas kepada rakyat. Untuk mendapatkan dana pemeliharaan setiap tahun, bagian-bagian kompleks gedung dan kawasan tersebut itu bisa disewa masyarakat untuk acara acara perkawinan, pertemuan, dan kegiatan olahraga. Pagar gedung pemerintah tidak boleh tinggi-tinggi, karena akan semakin menciptakan jarak antara pemerintah dan rakyat. Taman-taman yang luas dan bisa dinikmati rakyat dan keluarganya disetiap hari libur, dan tentu akan memberi nilai lebih terhadap kota.

Kawasan Industri Karingau (KIK) sesuai RTRW 2005 – 2015 kota Balikpapan mesti segera terwujud, agar tercipta titik baru pengembangan kawasan. Fungsi utama KIK sebagai kawasan perdagangan dan jasa yang tetap dintegrasikan dengan sistim kota. Kawasan hulu daerah banjir di Kelurahan Gunung Samarinda dan Kelurahan Sepinggan harus mendapatkan perhatian khusus karena mengalami perkembangan yang sangat pesat dan memberi beban yang sangat berat terhadap kota sebagai kawasan bisnis dan perdagangan. Stimulus pemerintah kota berupa perijinan gratis untuk memancing tumbuhnya titik-titik baru perkembangan kota ke daerah pinggiran yang sekarang berkembang sangat lambat. Perkembangan kota Balikpapan yang sangat cepat juga akan menimbulkan masalah baru lainnya yaitu polusi udara dan kemacetan. Pemerintah perlu segera memikirkan dan memperbanyak moda transportasi publik yang bisa mengangkut hingga lebih dari 100 orang sekali jalan !. Bangunan-bangunan konservasi harus dilindungi. Karena menyangkut sejarah dan perkembangan kota. Perlu kreativitas dan teknik memasarkan yang tepat agar bangunan kawasan konservasi bisa dijual sebagai komoditi wisata. Bangunan-bangunan baru dan sifatnya milik rakyat di sayembarakan secara luas. Libatkan semua elemen-elemen intelektual dalam pembangunan sebuah kota. Bukan hanya aspek teknis saja, tetapi juga aspek nonteknis seperti aspek sosial kemasrakatan,kebudayaan, gaya hidup, perkembangan teknologi, dan sebagainya.

Hari ini kota Balikpapan berada dipersimpangan jalan, ingin berperadaban maju, ingin modern, sejajar dengan kota-kota lain didunia, menjadi kota kelas dunia, menjadi kota yg baik dan sehat dan nyaman, menjadi kota yg biasa-biasa saja, atau menjelma menjadi kota yang jelek sama sekali, dan kota yang sakitnya parah. Perlu strategi berskala makro dan mikro sebagai obat untuk kota yang sakit, sebelum terlambat sama sekali, karena balikpapan melaju sangat cepat, seperti kereta super cepat di Jepang. Sekali salah ambil arah, sulit kembali ke persimpangan. pemimpin harus mempunyai visi jangka panjang dan jauh kedepan, bukan 5 atau 10 tahun, tapi kota kelas dunia dengan perencanaan yang matang 50 hingga 100 tahun kedepan.

(Wahyullah Bandung, arsitek dan penikmat kota)